SUARA POS

Switch to desktop Login

TUBAN, suarapos.com – Warga Desa Tanggir, Kecamatan Singgahan, mengeluhkan beras untuk rakyat miskin (Raskin) yang di bagikan oleh badan urusan logistik (bulog) Kabupaten Tuban. Untuk jatah bulan Desember dirasa tidak layak konsumsi. Rabu, 11 Desember 2013.

 

Pasalnya beras yang di terima oleh masyarakat ini berwarna kuning, selain itu beras juga terlihat banyak menirnya, selain  juga terlihat lembut. Mereka menerima jatah raskin dengan ukuran 15 kg. “kami yang sudah terlenjur nebus beras ini tidak berani mengkonsumsinya, karena baunya juga tidak enak”, ungkap Zubaidah (50) salah satu warga.

 

Mereka mengaku mendapatkan jatah raskin ini dijual kembali ke sejumlah tengkulak, dengan harga Rp 85.000 persak, baru kemudian mereka belikan kembali beras dengan kwalitas yang lebih baik.


Keluhan warga ini juga diamini Saeroji, ketua pelaksana pembagian raskin Dusun Krajan, Desa Tanggir, dia mengakui jika kwalitas yang di terima warga setiap dua bulan sekali ini memang kwalitasnya tidak layak konsumsi. “kami sebenarnya sudah melaporkan kasus seperti ini kepada Bulog, namun juga tidak mendapatkan  tanggapan”, katanya.

 

Jika memang bulan depan kwalitas yang di terimanya kwalitas masih tidak layak konsumsi, maka dia mengaku akan menolak beras tersebut dan akan di kembalikan, “kami sih berharap Bulog bisa mengirimkan beras raskin ini dengan kwalitas yang lebih baik, dan layak untuk di konsumsi oleh masyarakat”, pungkasnya.

 



Agus NS

Diterbitkan di Politik & Pemerintahan

Asyik Berenang, Pelajar SD Tewas Tenggelam

TUBAN, suarapos.com – Mohamad Rizky (9) asal  Desa Lajukidul, Kecamatan Singgahan, tewas setelah tenggelam di sungai Kening desa setempat. Pelajar SDN 1 setempat ini, tenggelam ketika sedang mandi bersama Riko Efendi dan Mohamad Hamit. Lantaran terseret derasnya air sungai. Sabtu, 07 Desember 2013.

 

Korban terseret hingga 1 km, ketika sedang asyik mandi dan  berenang ditengah sungai, namun nahas ketika sedang berenang, tiba-tiba korban terbawa derasnya arus sungai sebelum kemudian tenggelam dan hanyut. Melihat temanya tenggelam Riko dan temannya kemudian berteriak minta tolong kepada sejumlah warga terdekat.

 

“pas ketika sedang renang, dia terhanyut, lalu kami minta tolong kepada warga”, kata Riko. Sepontan warga yang mendengar teriakan Riko, langsung menghampiri mereka sebelum kemudiam melakukan pencarian.

 

Satu jam kemudian, beberapa warga berhasil menemukan korban yang tersangkut pohon bambu yang terletak di pinggir sungai, “diketemukan dalam kondisi tak sadarkan diri dan tersangkut  di pohon bambu”, papar Maskur, salah satu warga yang mengikuti pencarian korban.

 

Korban kemudian berhasil di evakuasi, sebelum kemudian di larikan ke Puskesmas setempat. Namun sayang, nyawa korban sudah tidak tertolong, ketika di Puskemas.

 

Sementara, petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Singgahan, dilokasi menyatakan korban murni meninggal dunia karena kecelakaan, lantaran tidak di temukan bekas penganiayaan, "dari pemeriksaan sejumlah saksi peritiwa ini murni kecelakaan, dan dinyatakan meninggal di Puskemas dan sudah tidak tertolong lagi nyawanya”, kata AIPTU Karsojo, Kanit Reskrim Polsek Singgahan.




Agus NS

Diterbitkan di Peristiwa

TUBAN, suarapos.com  – Sejumlah tokoh masyarakat Desa Margosari, Kecamatan Singgahan, meminta kepada pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menseriusi kasus penggelapan raskin, yang di lakukan oleh panitia pembagian, yang sudah di laporkan oleh masyarakat setempat.

 

“kami harap mereka, penegak hukum untuk serius dalam menangani kasus ini, sebab sudah tidak lagi transparan dalam pembagian yang dilaksanakan panitia bentukan Mantan Kepala Desa yang lama”, kata Ahmad Syafi’i, salah satu tokoh masyarakat kepada suarapos.com, Senin, 02 Desember 2013.

 

Sudah hampir 5 tahun, lanjut Syafi’i,  sejak Tahun 2005 hingga 2013, dalam pembagian dilapangan selalu ada kelebihan jatah. “kami berharap, pemerintah dan juga aparat serius dalam penanganan kasus ini”, ungkapnya.

 

Data yang di kumpulkanya, raskin yang di gelapkan cukup fantastis, yakni  4475 sak atau 650,349 kg. Dengan rincian Tahun 2009 sebanyak  210,690 Kg. Untuk Tahun 2010 ; 110 ,544 Kg.  Tahun 2011 sebanyak  130, 140 Kg. Tahun 2012 dengan jumlah 100, 350 Kg. Tahun 2013  sejumlah 800,625 Kg.

 

“kita hitung jumlahnya segitu, setelah kita cocokan dengan dengan data yang kita peroleh  yang instansi terkait, dan semuanya sudah kami serahkan ke pihak kepolisian untuk di jadikan bahan penyidikan”, pungkasnya.

 

Terpisah, Toha, Kepala Desa Margosari, ketika di konfirmasi via selulernya tidak ada jawaban, dan lebih memilih bungkam dengan kasus ini.

 



Agus NS

Diterbitkan di Hukum & Kriminal

Perubahan SK Perangkat Desa, Di Pungli

TUBAN, suarapos.com – Dalam perubahan Surat Keputusan (SK) perangkat desa, dibeberapa desa,  Kecamatan Singgahan, tentang masa pensiun dari umur 56 menjadi 60 tahun, diindikasikan adanya pungutan liar (pungli), senilai Rp 100 ribu persurat keputusan.


Informasi yang di terima suarapos.com,  dari salah satu perangkat desa yang enggan namanya di sebutkan, mengatakan dugaan pungutan dilakukan oleh pihak kecamatan, meskipun posisi kecamatan hanya sekedar memberikan rekomendasi. “memang di tarik 100.000 per SK, tapi silahkan di konfirmasi sendiri camatnya”, kata, Jum’at, 15 November 2013.

 

Meskipun dalam pembuatan SK tersebut yang berhak membuat adalah Kepala Desa, sesuai dengan mekanisme dan peraturan daerah yang ada.  Selain Desa Saringembat, ditemukan hal yang sama diantaranya Desa Lajukidul, Binangun, Tanjungrejo, semuanya berada di Kecamatan Singgahan, “banyak sebenarnya, yang ditarik”, pungkasnya.

 

Terpisah, Kasi Pemerintahan, Kecamatan Singgahan, Muslih ketika di konfirmasi via selulernya tidak memberikan tanggapan, akan tetapi visa SMS, dia membantah jika terjadi pungutan setiap SK, “tidak ada pungutan dalam pembuatan rekomendasi SK perangkat desa”, katanya.




Agus NS

Diterbitkan di Politik & Pemerintahan

TUBAN, suarapos.com – Penyaluran bantuan pengembangan usaha agrobisnis pertanian ((PUAP) dari pemerintah pusat, senilai Rp 100 juta, di Desa Laju Kidul, Kecamatan Singgahan, dianggap masyarakat janggal, lantaran di temukan laporan pengguna anggaran yang fiktif.

 

Fiktifnya laporan ketika  ditemukannya salah satu warga yang menerima bantuan, bukan anggota dari kelompok tani atau anggota dari gabungan kelompok tani (Gapoktan) setempat, melainkan orang lain yang beda desa. Masyarakat menilai bahwa ada dugaan penggelembungan dana oleh penanggung jawabnya.

 

“ini saya ketahui, ketika kami menanyakan laporan, dan pembukuan di Kepala Dusun Kepanjen, karena dia sebagai bendahara. Namun ketika saya teliti ditemukan kejanggalan lantaran data banyak yang fiktif”, kata Munif, ketua Gapoktan, bentukan baru, karena ketua Gapoktan sebelumnya sudah meninggal. Kamis, 14 November 2013.

 

Hal ini juga di sayangkan oleh Kepala Desa Laju Kidul, Yoyok Sudarmoko, ia menilai ditemukannya laporan fiktif ini diakibatkan para pemegang bantuan hanya memprioritaskan kepentingan pribadi, bukan kepentingan untuk masyarakat.

 

Dia juga berharap dana PUAB bisa di selesaikan dengan baik-baik, karena memang di akuinya banyak laporan dana PUAB hanya di nikmati oleh segelintir keluarga pelaksana program. Bahkan ada pula keluarga Kepala Dusun Kepanjen, yang juga mendapatkan bantuan pinjaman dari dana tersebut, “tentunya saya juga sangat perihatin, melihat perilaku perangkat desa yang terlalu banyak masalah ini”, sahut Yoyok Kepala Desa Laju Kidul, kepada suarapos.com.

 

Meski begitu, dia juga akan melakukan pengawasan dan melakukan evaluasi terhadap laporan tersebut, agar tercapai sasaran dan benar-benar di nikmati oleh masyarakat. “kita akan mengupayakan agar penanggung jawab program untuk segera melakukan evaluasi dengan tujuan agar program tepat sasaran”, pungkas Yoyok.

 



Agus NS

Diterbitkan di Kabar Petani

TUBAN, suarapos.com - Puluhan warga Desa Laju kidul, Kecamatan Singgahan, menggerebek oknum perangkat Desa setempat yang di anggap sedang selingkuh. Berinisial SZ, Kepala urusan (Kaur) ekonomi dan keuangan desa. Minggu malam, 30 September 2013.

 

Penggerebekan ini berawal ketika salah satu warga memergoki KHO, mantan Kepala Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Singgahan,  masuk kedalam rumah perempuan tersebut, yang berstatuskan janda, sekitar jam 20.00 WIB, Minggu malam. Warga yang melihat gelagat KHO, langsung menghubungi warga yang lainya.

 

Kemudian, mereka melakukan pengintaian, namun ketika sampai jam 22.30 WIB malam, KHO tidak kunjung keluar dari rumah janda tersebut. justru kondisi rumah di tutup rapat-rapat dengan lampu yang di matikan. Spontanitas warga yang melihat kondisi itu langsung mendobrak pintu rumah SZ. “kita mendapatinya berduaan di dalam rumah, padahal mereka bukan pasangan suami istri”, kata Sukran, salah satu warga setempat yang ikut menggerebek.

 

Kasus percintaan bukan suami istri ini, lanjut Sukran, sudah lama mereka ketahui, namun mereka baru bisa membuktikan ketika KHO, sedang berada di dalam rumah SZ.  Tak lama kemudian, setelah mereka mendapati KHO dan SZ, berdua, mereka langsung menghubungi pihak kepolisian setempat, serta melaporkan peristiwa itu ke Kepala Desa Laju Kidul.

 

Sebelum kemudian mereka, menggelandang keduanya di Balai Desa setempat untuk mempertanggung jawabkan perbuatanny,  dengan kawalan petugas kepolisian. Dibalai desa, KHO mengakui perbuatannya kepada petugas dan perangkat Desa. Sementara warga meminta agar KHO segera menikahi SZ, lantaran telah lama berhubungan dan dianggap merusak nama baik desa, terlebih SZ juga merupakan perangkat desa.

 

Namun permintaan warga ini mendapatkan penolakan dari keluarga KHO, dan tidak menerima jika KHO, menikah kembali. Dan sidang berakhir dengan kesepakatan keduanya tidak akan mengulangi kembali perbuatan bejatnya, yang di teken langsung oleh Kepala Desa dan Kepolisian setempat.

 

Kelapa Desa mengaku akan memproses yang bersangkutan sesuai dengan peraturan dan UU yang berlaku, terlebih keduanya sudah pernah mendapatkan teguran atas perbuatannya. “akan kita koordinasikan dengan BPD, sebagai mitra kerja kami, baru kemudian kita akan membuatkan sangsi sesuai dengan aturan dan mekanisme yang ada”, kata Yoyok Sudarmoko, Kepala Desa Laju Kidul, kepada suarapos.com.

 

 

Agus NS

Diterbitkan di Hukum & Kriminal

Warga Sukorejo Laporkan Penggelapan Raskin

TUBAN,suarapos.com  - Sejumlah   warga Dusun Sukorejo,Desa Mergosari,  Kecamatan Singgahan mendatangi Mapolsek Singgahan,  terkait dugaan penggelapan Raskin yang di lakukan panitia pembagian Raskin. Dengan  dugaan  yang melibatkan Toha mantan Kepala Desa Mergosari. Rabu 11 September 2013.



Temuan  dugaan  penyelewengan dan penggelapan jatah beras untuk warga miskin Itu,  berdasarkan temuan warga.  Yang mana warga Dusun Sukorejo setiap dua bulan mendapatkan raskin sebanyak 168 sak , namun yang di bagikan oleh panitia hanya  106 sak, seperti  pembagian pada tanggal 4 september 2013 lalu.



Menurut Safi'i, salah satu tokoh masyarakat setempat,  membeberkan bahwa hal ini sebenarnya sudah lama terjadi di desanya. “tapi kami baru mendapatkan saksi dan bukti pengelapan raskin itu”, katanya.

 

Terungkapnya, ketika saat saya menanyakan jumlah penerima untuk Dusun Sukorejo. Akan tetapi ketika di kroscek yang dibagikan ternyata hanya 160 Sak. Padahal sebenarnya ada jatah 168 Sak. “berati ada sisa raskin 62 Sak, dan setelah saya tanyakan ke Ibu Siti Nurhalimah sebagia panitia pembagian Raskin yang di tunjuk oleh Toha Mantan kepala desa margosari, untuk kelebihan raskin tersebut di jual dan uang penjualannya sepenuhnya di kasihkan ke Toha”, pungkas Safi’i.

 

Terpisah, Aiptu Karsojo, Kanit Reskrim Polsek Singgahan, ketika di konfirmasi,  menyatakan sudah menerima laporan dari warga, namun pihaknya mengaku akan meneruskan laporan tersebut ke Polres Tuban, “kami menerima laporan warga, terkait pengelapan Raskin dan kami akan meneruskan dan mengawal laporan tersebut ke Polres karena untuk penyidikan Tipikor wewenang Polres, dan kami secepatnya akan meneruskan laporan ini”, katanya.

Agus NS

Diterbitkan di Hukum & Kriminal

TUBAN, suarapos.com - Konser dangdut Denada di Desa Laju Kidul, Kecamatan Singgahan, diwarnai adu jotos sesama penonton. Satu orang mengalami luka serius dibagian hidung dan mulut, lantaran menjadi bulan-bulanan para penjoget yang terlibat tawuran. Senin, 12 Agustus 2013.

 

Bibit – bibit kericuhan dalam  konser di acara hajatan warga setempat ini, sudah terlihat, ketika konser di mulai. Namun dapat di redam sejumlah petugas kepolisian dan TNI yang di siagakan sebelumnya, yang masuk kedalam arena perjogetan. Hingga sering terulang acap kali lagu dangdut bernuansa koplo mulai dilantunkan.

 

Lagu ketiga berjudul Oplosan, dengan iringan musik rock koplo, langsung membuat para penjoget kegirangan dalam berjoget, hingga tawuran sesama pemuda yang di duga sudah mabuk sebelumnya, tak dapat terhindarkan. Salah satu pemuda diketahui bernama Manto (16) warga setempat menjadi korban dalam tawuran tersebut, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah, akibat dipukuli sejumlah pemuda lainya.

 

Diduga pemicu tawuran ini, selain karena tidak puas ketika saling senggol dalam berjoget, dimungkinkan karena ada salah satu penjoget yang mengibarkan salah satu bendera perguruan silat. “sudah biasa, kalau ada dangdutan ada tawuran”, ujar Saipun, salah satu pononton yang melihat tawuran.

 

Petugas yang berada di lokasi langsung melakukan pengamanan terhadap pelaku yang terlibat saling adu jotos. Nampak petugas mengamankan satu pemuda, yang di duga sebagai provokator dalam tawuran tersebut. Meski sering terjadi keributan, pentas dangdut tetap saja di lanjutkanb hingga selesai pada pukul 17.00 WIB.

 

Agus NS

Diterbitkan di Peristiwa

TUBAN,suarapos.com – Kelilingnya Bupati dan Wakil Bupati (Wabub) Tuban, H. Fatkhul Huda dan Ir.Noor Nahar Husein, dalam rangka safari ramadhan 1434 H dibeberapa wilayah, mengundang sejumlah masalah baru. Pasalnya, alokasi dana untuk kegiatan tersebut, diambilkan dari desa yang menjadi sasaran kegiatan safari tersebut. salah satunya, safari ramadhan yang di laksanakan di aula pendopo, Kecamatan Singgahan. Kamis, 18 Juli 2013, Kemarin.

 

Sebanyak 12 desa mendapatkan surat edaran atas nama panitia safari dari Kecamatan Singgahan, yang berisikan permintaan bantuan, sebesar Rp. 500. 000, untuk kegiatan safari ramadhan Bupati Tuban. surat edaran tersebut langsung di tujukan kepala Kepala Desa se-Kecamatan Singgahan. “silahkan di lihat sendiri undanganya, disitu tertera permintaan dana Rp. 500.000 setiap desa”, ungkap sumber suarapos.com, yang tidak mau menyebutkan namannya.

 

Hal ini, amat di sayangkan beberapa pihak, diantaranya Abdul Wahab, salah satu anggota peneliti anggara Fitra jatim, bahwa kegiatan itu, harus di mintakan dana dari masyarakat, sebab bagaimana Bupati bisa menanggulangi angka kemiskinan. Jika Desa sendiri harus di bebabani dengan kegiatan yang notabene belum ada out put yang jelas terhadap masyarakat, “mestinya itu tidak boleh di lakukan, kasihan desa, ya kalau desanya kaya? kalau miskin! kan malah akan membenani desa itu sendiri, jika setiap kegiatan, kekurangan biayanya dibebankan desa”, Katanya.

 

Terpisah, Didit Sulitiyadi, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Tuban, ketika di konfirmasi menyatakan bahwa kegiatan tersebut sebenarnya sudah di biayai APBD , sehingga dirinya mengaku tidak tahu jika ada tarikan untuk desa, “ untuk kegiatan ini sudah dibiayai APBD, dengan satu kali kegiatan di satu kecamatan mendapatkan alokasi dana Rp. 7.500.000”, Kata Didit.

 

Sehingga jika ada tarikan, atau dana yang di bebankan kepada desa, dirinya mengaku tidak tahu. Namun begitu pihaknya menyatakan tidak masalah jika ada pengembangan biaya atau pembengkakan anggaran kegiatan, “kalau memang dilaksanakan dan disetujui secara swadaya ya monggo, kalau tidak setuju ya tidak usah diberikan bantuan”, pungkasnya. Untuk safari ramadhan hari ini akan di laksanakan di Kecamatan Kerek dan Merakurak, bertempat di aula pendopo, Kecamatan Kerek.

 

 

Agus NS

Diterbitkan di Politik & Pemerintahan

Tuban (suarapos.com)- Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) di Kecamatan Singgahan, mulai di cairkan melalui Kantor Pos Jojogan, dan Balai Desa Saringembat. Yang terdiri dari 12 Desa, dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 3884 KK,  Se-Kecamatan Singgahan, dengan nominal utuh 300 ribu.

 

Namun di temukan banyak data yang tidak sesuai, sehingga ditemukan bantuan yang tidak tepat sasaran dalam pembagian BLSM ini, banyak warga miskin yang mestinya mendapatkan akan tetapi tidak mendapatkan sama sekali. Seperti halnya Sutimah warga Desa Tanggir, dilihat dari sisi kehidupannya sangat layak untuk mendapatkan akan tetapi tidak mendapatkan.

 

Berbeda dengan yang di alami Srinem, warga Desa Mulyoagung, seorang pensiunan PNS dan Jonatan seorang PNS asal Desa Kedungjambe, keduanya masuk dalam daftar memperolah BLSM. “banyak warga miskin yang tidak mendapatkan bantuan itu, akan tetapi malah seorang PNS mendapatkan bantuan, sungguh sangat mengecewakan sekali bantuan ini”, Ungkap Sutris warga yang lainya ketika sedang mengambil BLSM di kantor pos Jojogan.


Sedangkan pembagian BLSM yang ada di Balai Desa Saringembat sedikit terjadi kericuhan, lantaran warga berdesak-desakan untuk mengantri mendpatkan bantuan tersebut, sehingga mengakibatkan salah seorang warga Kedung Jambe, yang di ketahui bernama Sarmini mengalami pingsan, lantaran terlalu lama mengantri dan berdesak-desakan dengan sejumlah warga lainnya. Diantaranya warga Desa Mergosari, Tanjungrejo, Tunggulrejo, Binangun, Kedungjambi dan Desa Saringembat sendiri.

 

Sementara pihak Kantor Pos Jojogan ketika di konfirmasi menyatakan sudah meminta ke sejumlah tenaga pembantu agar membuat jadwal, sehingga tidak terjadi berdesak-desakan, “pembagian di kantor pos juga 6 desa yakni Mulyorejo, Tingkis, Mulyoagung, Laju lor, Laju Kidul, dan Tanggir. Sebenarnya memang sudah di jadwal, akan tetapi gimana lagi memang ada keterlambatan penerimaan uang dan kartu dari Kantor Pos Tuban, antrianpun tak dapat terhindarkan dan berdesak-desakan”, Kata Agus Pratikto, Kepala Kantor Pos jojogan ketika di temui disela pembagian bantuan.

 

 

Penulis : Agus NS

Diterbitkan di Politik & Pemerintahan
Halaman 1 dari 2