Benarkah Demo Mahasiswa Tak Ditunggangi?

Foto ilustrasi (Chuk S. Widarsha/detikcom)

Jakarta – Demonstrasi mahasiswa membawa aspirasi penolakan terhadap rancangan undang-undang (RUU) serta UU KPK. Aksi massa yang awalnya relatif aman kemudian beranjak rusuh. Apa benar demo mahasiswa tak ditunggangi?

Demonstrasi ini berlangsung seiring dengan melejitnya tagar-tagar di Twitter. Tagar itu beragam. Untuk menjawab apa benar demonstrasi mahasiswa ini tidak ditunggangi, dinamika tagar di media sosial bisa menjadi monitor.

Pengamat komunikasi dan budaya digital Dr Firman Kurniawan mengatakan makna ‘tunggang menunggangi’ dalam aksi demo tak bisa dimaknai secara sempit lagi, ada bayaran dan pengarahan isu dari elite. Di era digital, penunggangan aksi demo juga bisa dilakukan tanpa pelaku demo menyadarinya. Penumpang gelap bisa menyusup lewat tagar-tagar seruan di media sosial.

“Soal frasa ‘ditunggangi’ di tengah masifnya penggunaan medium digital hari ini, tak mesti diartikan berupa adanya aliran dana atau penyertaan kepentingan dari kelompok tertentu kepada massa yang potensial bergerak,” ulas Firman saat berbincang dengan wartawan, Kamis (26/9/2019).

“Dengan menggaungkan pesan, yang tentunya tak mesti sesuai dengan keadaan sebenarnya, dan dengan berkolaborasi memanfaatkan buzzer menjadikannya viral, ini cukup dapat menggerakan gelombang massa,” imbuh pengajar di program pascasarjana Universitas Indonesia ini.

Bukan hanya tagar, ada juga informasi-informasi viral yang mampu menggerakkan orang untuk bertindak. Buzzer berperan menjadikan pesan-pesan itu viral. Kepentingan di balik tagar itu bisa beragam. Apa aksi mahasiswa sudah ditunggangi?

“Saya tidak ingin se-eksplisit itu, tapi setidaknya yang melakukan demo dan yang menanganinya tidak terjebak pada asumsi asumsi lama,” kata Firman.

Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, pernah menganalisis tagar-tagar yang muncul saat suasana demonstrasi belakangan ini.

Awalnya, #GejayanMemanggil melejit seiring demonstrasi mahasiswa di Yogyakarta. Demonstrasi itu sendiri aman-aman saja. Seiring dengan tagar itu, muncul pula tagar-tagar lain seperti #MahasiswaBergerak, #TurunkanJokowi, #PercayaLangkahJokowi, #DiperkosaNegara, #STMmelawan, #stmmahasiswabersatu, dan lain sebagainya.

Untuk #TurunkanJokowi di Twitter, Ismail Fahmi menjelaskan tagar itu digerakkan oleh ‘top influencers’. Ismail mengunggah daftar top influencers yang menggemkan tagar #TurunkanJokowi di Twitter, ada @candraidw_md, @opposite6890, @localhost911, @do_ra_dong, @aisyadiaa, @3Ent0w1j4yA, dan @helmifelis.

Mahasiswa sendiri yang bergerak di dunia nyata menegaskan aksinya tak ditunggangi. Keinginan mereka bukanlah menurunkan Jokowi melainkan menolak pengesahan RUU dan UU KPK. Namun upaya penunggangan itu ditengarai memang ada sehingga mereka disalahpahami ingin menurunkan Jokowi.

Misalnya, Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Dinno Ardiansyah. Dia menyesalkan elite-elite politik yang berusaha menunggangi aksi independen mahasiswa.

“Itu sebenarnya kita juga sangat menyayangkan ketika elite-elite politik justru menunggangi dan mengambil kesempatan dari mahasiswa,” kata Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Dinno Ardiansyah, kepada wartawan, Rabu (25/9).

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menduga ada yang menyusupi demonstrasi mahasiswa supaya menggagalkan pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober. Menko Polhukam Wiranto mengimbau semua pihak tak terpancing soal isu gangguan pelantikan Jokowi itu. Mahasiswa demonstran menilai Fahri dan Wiranto sedang menggiring opini.

“Tidak ada maksud mahasiswa untuk menurunkan Presiden yang terpilih secara konstitusional. Kita hanya mengisi pos kita sebagai oposisi yang mengkritisi kebijakan elite dan pemerintahan yang ngawur,” kata Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Jakarta, Sultan Rivandi, kepada wartawan, Rabu (25/9).

Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Muhammad Nurdiyansyah atau yang biasa disapa Dadan membantah jika ada yang menyebut aksi mahasiswa yang berlangsung beberapa hari kemarin ditunggangi pihak lain. Dadan menyatakan aksi mahasiswa murni tergerak untuk menyampaikan aspirasi rakyat.

“Jadi ketika memang ada banyak pihak yang mengklaim (ditunggangi) dan lain-lain, saya sangat membantah. Bahwasanya aksi kemarin, pure, yang bisa saya sampaikan, itu terjadi atas dasar keresahan, luapan serta kegelisahan dari mahasiswa yang sudah berkali-kali melaksanakan, menggubris terkait dengan aspirasi tapi tidak pernah ditanggapi. Sehingga wajar dalam konteks di sini adalah mahasiswa sampai benar-benar turun ke jalan atas dasar keresahan,” kata Dadan saat dihubungi, Rabu (25/6/2019).

sumber: detik.com