Mengenai Sepak Terjang Pimpinan KKB Egianus Kogoyo, Staf Presiden Jokowi yang Bermarga Sama pun Angkat Bicara

Lennys Kogoya, staf Presiden Jokowi mengutuk aksi yang dilakukan Egianus Kogoya. (Sumber : kompas.com)

Egianus Kogoya berikut kelompok yang dia pimpin, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), kembali naik daun.

Mereka diduga berada di balik aksi pembantaian terhadap belasan pekerja proyek Trans Papua di Kabupaten Nduga, Papua, pada 2 Desember lalu.

Terkait sepak terjang sang pemimpin, salah satu staf Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, Lennys Kogoya pun angkat bicara.

Secara tegas ia meminta segenap warga Indonesia untuk tidak melabeli warga Papua yang bermarga Kogoya sebagai bagian dari pemberontak bersenjata.

“Jangan dicap semua Kogoya adalah pemberontak,” ujarnya, ketika dijumpai di Istana Negara Jakarta, Senin (10/12) kemarin. “Gara-gara dia (Egianus Kogoya), semua marga Kogoya itu jadi terbawa-bawa.”

Lebih lanjut, Lennys juga menyebut bahwa salah satu tetua marga Kogoya pun ikut serta dalam mempertahankan NKRI.

Bahkan, para tetua ikut mempelopori penyerahan senjata ke tentara. Demikain pula di era sekarang di mana bermunculan kelompok kriminal bersenjata, namun para warga marga Kogoya justru mengikrarkan diri menjadi warga negara Indonesia.

“Kogoya itu pernah menyerahkan senjata hampir 100 orang. Itu hanya Kogoya yang bisa bikin. Dari perbatasan semua senjata diserahkan. Lalu mereka menyatakan sikap (masuk ke NKRI),” ujar Lennys.

“Lalu di Puncak Jaya, OPM mau masuk, saya pendekatan ke mereka, lalu orang Kogoya membuat pernyataan sikap untuk masuk ke NKRI. Kami marga Kogoya kontribusi untuk negara ini sangat besar. Karena kami punya orangtua pejuang,” lanjut dia.

Tak lupa, Lennys juga mengecam tindakan Egianus Kogoya yang telah menodai nama baik marga Kogoya dengan melancarkan aksi kekerasan.

“Kalau mereka mengaku Kogoya, boleh-boleh saja. Tapi memang Kogoya itu di mana-mana, dan di gunung-gunung itu tersebar. Sudahlah, jangan bawa-bawa nama Kogoya terus di gunung sana,” lanjut Lennys.

Seperti yang kita tahu, kelompok bersenjata di Papua, Minggu (2/12/2018), pimpinan Egianus Kogoya membunuh 20 orang Kabupaten Nduga.

Para korban terdiri atas 19 pekerja proyek Trans Papua, tepatnya jembatan Kali Yigi-Kali Aurak dan 1 orang personel TNI.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, pembunuhan berawal dari para pekerja yang memotret perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka. Aktivitas itu kemudian diketahui oleh kelompok bersenjata.

Para pekerja tersebut pun dibunuh secara sadis di lereng bukit Puncak Kabo oleh kelompok kriminal bersenjata yang merasa marah.

Tak lama berselang, TNI dan Polri langsung mengirim pasukan untuk melakukan proses penyelamatan. Tak hanya penyelamatan, mereka juga ditugaskan untuk meringkus kelompok disebut kerap membikin onar itu. Tapi, mengatasi KKB yang berafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu bukanlah perkara mudah.

Paling tidak, seperti itulah yang disampaikan Kapendam Cendrawasih, Muhammad Aidi, kepada BBC News Indonesia, seperti dilaporkan Tribunnews.com pada Senin (10/12). Menurutnya, jika berada di tengah kampung penduduk, kelompok itu akan meletakkan senjata dan berbaur dengan masyarakat, sehingga sulit untuk dikenali. Tapi yang jelas, “Mereka harus tertangkap, hidup atau mati,” ujarnya.

KKB, masih menurut Aidi, menggunakan pola operasi gerilya, yang memungkinkan mereka bisa berada di mana-mana. Tak hanya itu, mereka juga sudah hafal betul dengan medan yang ada, berbeda dengan beberapa anggota TNI. Lebih-lebih, “Kami tak mengenal secara fisik orang-orang itu, kita tak pernah bertemu dengan mereka,” tambahnya yang mengaku hanya mengenal mereka dari foto-foto atau sinyalemen lain.

Kapendam Aidi juga menegaskan, hal lain yang mempersulit penumpasan adalah fakta bahwa para kombatan ini adalah bagian dari masyarakat. “Beda halnya dengan kalau kita mengejar teroris di Jawa atau di Sulawesi, misalnya. Tak ada masyarakat yang mendukung teroris itu,” tambahnya.

Apa yang disampaikan Aidi itu tentu saja merupakan kerumitan yang harus segera dicari jalan keluarnya. Dan untuk itu, salah satu langkah yang akan mereka tempuh adalah melakukan pendekatan ke masyarakat setempat. “Bahwa yang dilakukan oleh para pelaku itu adalah tindakan tidak manusiawi dan tindakan yang sangat keji. Sehingga tak perlu dibela. Jadi kita akan selalu melakukan pendekatan,” pintanya

Sumber : suar.id