Sekolah Formal 8 Jam, Sekolah Diniyah?

Ilustrasi anak berangkat sekolah menyuri jalan. FOTO ANTARA/Anis Efizudin/ss/hp/09

TULUNGAGUNG – Penerapan sekolah delapan jam sehari dalam lima hari sekolah telah menuai kritikan dari berbagai pihak. Hal ini dikarenakan banyak orang tua siswa menilai mengganggu jam belajar mengaji siswa di sore hari.

Ditemui tim Suara Pos, Hj. Masripah Ketua Jama’ah Yasin At – Taqwa Campur Darat, Tulungagung. Dia menyesali dengan program yang dikeluarkan oleh Mendikbud.

“Anak – anak kalau harus pulang segitu akhirnya banyak yang kecapekan dan udah malas untuk berangkat mengaji”, ujarnya pada tim Suara Pos

Tambahnya, “Masak iya, harus sama dengan orang tuanya. Beberapa anggota saya banyak yang gag bisa baca/tulis Qur’an. Mau jadi apa coba kalau anak – anaknya juga seperti itu”.

Memang banyak orang tua atau wali siswa menyesalkan program tersebut. Harapan mereka program tersebut dapat diganti atau dihapuskan karena mengganggu jam belajar mengaji.

“Saya harap suara dan harapan saya ini didengar dan akhirnya ada kebijakan yang lebih bijaksana mengenai permasalahan ini” ujar Hj. Masripah.

Hal ini bertentangan dengan statement Mendikbud Muhajir, “Singkatnya, kalau ada siswa yang sorenya belajar di Madrasah Diniyah, maka kegiatan belajar di Diniyah itu dapat diakui sebagai bagian dari delapan jam sekolah itu. Sebagai kegiatan kokurikuler yang memperkuat karakter keagamaan (religiositas), jadi bukan mematikan Madin, malahan Madin bisa menjadi partner sekolah dalam pembentukan karakter siswa,” kata dia

(dikutip dari m.detik.com “Mendikbud: Kegiatan Ekstrakurikuler Masuk Hitungan 8 Jam Sekolah”).