Tahun 1990an, Ilmuwan Sudah ‘Lahirkan’ Manusia Hasil Rekayasa Genetika

Profesor He Jiankuie (foto: BBC)

Praktik rekayasa genetika yang dilakukan ilmuwan asal China, Profesor He Jiankuie, baru-baru ini mengundang kontroversi. He dalam sebuah konferensi menyatakan bahwa ia telah merekayasa gen sepasang bayi perempuan kembar, Lulu dan Hana, agar kebal terhadap virus HIV.

Praktik He tersebut memancing amarah sejumlah pihak, hingga pemerintah China memutuskan untuk menghentikannya. Alasannya, penelitian itu merupakan pelanggaran terhadap peraturan ketat terkait pemanfaatan rekayasa genetika pada manusia.

Dikutip dari BBC, pada Kamis 29 November 2018 lalu, Kementerian Ilmu Pengetahuan China mengatakan bahwa mereka telah meminta The Southern University of Science and Technology di Shenzhen menghentikan aktivitas ilmiah He. Sebelumnya, He merupakan bagian dari universitas itu, sebelum cuti tanpa dibayar pada Februari lalu.

Sementara itu, Komisi Kesehatan Nasional China telah menyatakan bahwa penelitian Profesor He “telah secara serius melanggar hukum, peraturan dan standar etika China” dan bahwa mereka akan menginvestigasi klaim tersebut.

Bukan Pertama Kali

Rekayasa genetika bukan hal yang benar-benar baru. Menurut sebuah sumber, individu yang dimodifikasi secara genetis pernah ada, bahkan mungkin hidup hingga kini. Laman The New York Times, memberitakan pada 1 Desember 2018, bahwa ketika pertengahan 1990-an, para dokter ahli kesuburan di New Jersey mendapat ide untuk membantu wanita memiliki anak.

Mereka melihat beberapa wanita kesulitan hamil karena ada sesuatu yang rusak di telur mereka. Sebagai peremajaan, para dokter menarik sebagian dari sel telur yang didonasikan oleh wanita sehat, kemudian menyuntikkannya ke dalam telur pasien mereka, sebelum melakukan fertilisasi in-vitro.

Para dokter tidak meminta izin dari pihak berwenang (FDA – Food and Drug Administration), ketika menjalankan praktik tersebut. Hanya saja, setelah melihat pasien mereka memiliki anak-anak yang sehat, mereka menyampaikan kabar itu yang tampaknya berhasil.

Namun penentangan terjadi. Mereka menilai, sel-sel kita menghasilkan bahan bakar di ‘pabrik-pabrik miniatur’ yang disebut mitokondria. Dan masing-masing mitokondrion membawa serangkaian kecil gennya sendiri. Para dokter kesuburan New Jersey mungkin telah membuat anak-anak dengan DNA tiga orang, bukan dua.

Ternyata hal itu memang benar. Para dokter menemukan bahwa beberapa anak membawa DNA mitokondria dari para donor di samping orang tua mereka.

FDA juga bereaksi tak senang. Mereka melayangkan tuntutan pada klinik yang tak dijelaskan namanya itu, sehingga praktik penyuntikan telur pun berhenti. Saat itu, mungkin selusin anak sudah dilahirkan dengan campuran DNA.

Seperti DNA di kromosom kita, DNA di mitokondria bisa bermutasi. Mutasi dapat menyebabkan gejala mulai dari kebutaan hingga kematian dini, dan wanita menurunkannya kepada anak-anak mereka. Diperkirakan satu dari 5.000 orang menderita penyakit mitokondria, dan sebagian besar tidak ada perawatan yang efektif. Para ilmuwan bertanya-tanya apakah mereka bisa menghapus penyakit-penyakit ini dengan menukar mitokondria.

Tes-tes yang disebut terapi penggantian mitokondria ini, yang dilakukan pada tikus dan monyet, menawarkan hasil yang menggembirakan. Tetapi ketika para ilmuwan mendekati pemerintah Amerika Serikat untuk mencobanya pada telur manusia, gagasannya ditolak.

Bukan hanya risiko medis yang mungkin membuat orang khawatir. Banyak yang melihatnya sebagai penghinaan terhadap martabat manusia. “Ini adalah bentuk mengerikan dari kloning manusia eugenic,” kata seorang anggota kongres Nebraska, Jeff Fortenberry, pada sidang pada tahun 2014.

Dua tahun kemudian, sebuah ketentuan berkembang menjadi RUU anggaran kongres yang melarang FDA dari mempertimbangkan terapi penggantian mitokondria.

Apa yang dilakukan Profesor He dan berbuntut tentangan keras akhir-akhir ini, mengingatkan pada sejarah modifikasi gen oleh dokter New Jersey tersebut. Glen Cohen, profesor teknologi di Harvard Law School, memprediksi bahwa praktik He bisa jadi akan menjadi pengulangan terhadap cerita pengganti mitokondria.

Terlepas dari itu, Lulu dan Hana, kedua bayi kembar yang menjadi praktik rekayasa genetika He, telah lahir di Hong Kong, dan He menyatakan akan memonitor pertumbuhannya selama 18 tahun ke depan.

sumber: viva.co.id